Jari dan tasbih

DZIKIR JARI VS TASBIH

Abdullah bin Amr bin Ash RA berkata :
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ
“Saya melihat, Rasulullah SAW menghitung dzikir beliau dengan tangannya.” [HR. Ahmad]

Secara bahasa, Dzikir berasal dari kalimat ذكر، يذكر، ذكرا  yang artinya mengingat sesuatu atau menyebut setelah lupa atau berdoa kepada Allah. Dzikir juga bermakna mengingat sesuatu atau menghafalkan sesuatu. Juga dapat dimaksudkan dengan sesuatu yang disebut dengan lidah atau suatu yang baik. [Mu’jam al-Wasit]
Al
-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan “yang dimaksud dengan dzikir adalah mengucapkan dan memperbanyak segala bentuk lafadh yang di dalamnya berisi tentang kabar gembira, seperti kalimat : subhaanallaahi, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar; dan yang semisalnya, doa untuk kebaikan dunia dan akhirat. dan termasuk juga dzikir kepada Allah adalah segala bentuk aktifitas amal shalih yang hukumnya wajib ataupun sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, membaca Hadiits, belajar ilmu agama, dan melakukan shalat-shalat sunnah”[Fathul-Bari]

Menurut Imam an-Nawawi, berdzikir adalah suatu amalan yang disyari’atkan dan sangat dianjurkan di dalam Islam. Ia dapat dilakukan dengan hati atau lidah. Afdhalnya dengan kedua-duanya sekaligus.[al-Adzkar] Kita diperintahkan untuk Dzikir sebanyak-banyaknya, sebagaimana firmanNya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan sebanyak-banyaknya. [QS Al-Ahzab : 41]

Di sisi lain, Rasul mengajarkan beberapa kalimat dzikir yang dibaca dengan jumlah tertentu seperti anjuran dzikir tasbih, tahmid dan takbir setelah selesai sholat atau mau tidur dengan hitungan masing-masing 33 x. Untuk memudahkan dalam menghitung jumlah dzikir maka beliau menggunakan jari jemari sebagaimana keterangan hadits di atas. Dan ternyata, menghitung dzikir dengan jari memiliki faidah yang lain sebagaimana perintah Nabi kepada shahabiyat berikut:
يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنَينَ، عَلَيْكُنَّ بِالتَّهْلِيلِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّقْدِيسِ، وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ، وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ
“Wahai para wanita mu’minah, bertasbihlah kalian, bertahlil, mensucikan nama Allah. Janganlah kalian lalai, sehingga melupakan rahmat Allah. Hitunglah dengan jari-jari kalian, karena semua jari itu akan ditanya dan diminta untuk bicara (saksi).” [HR. Ahmad]

Lebih lanjut, Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan :
ومعنى العقد المذكور في الحديث إحصاء العد، وهو اصطلاح للعرب بوضع بعض الأنامل على بعض عُقد الأُنملة الأخرى، فالآحاد والعشرات باليمين، والمئون والآلاف باليسار، والله أعلم
Makna kata ‘al-aqd’ (menghitung) yang disebutkan dalam hadis [pada kata: وَاعْقِدْنَ] adalah menghitung jumlah dzikir. Ini merupakan istilah orang arab, yang bentuknya dengan meletakkan salah satu ujung jari pada berbagai ruas jari yang lain. Satuan dan puluhan dengan tangan kanan, sementara ratusan dan ribuan dengan tangan kiri. Allahu a’lam. [Nata’ij Al-Afkar fi Takhrij Ahadits Al-Adzkar]
Namun demikian, hal ini bukan berarti menghitung dzikir dengan sesuatu yang lain seperti tasbih, counter ataupun tasbih digital di smartphone adalah tidak boleh dan bid’ah, walaupun memang yang lebih afdhal menghitung dengan jari-jemari tangan.
Sayyidah Shafiyyah istri Rasulullah, beliau berkata:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلاَفِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، فَقَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذَا؟ أَلاَ أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ بِهِ؟ فَقَالَتْ: عَلِّمْنِيْ، فَقَالَ: قُوْلِيْ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ مِنْ شَىْءٍ
“Suatu ketika Rasulullah menemuiku dan ketika itu ada di hadapanku 4.000 biji yang aku gunakan untuk berdzikir. Lalu Rasulullah berkata: Apakah kamu bertasbih dengan biji-biji ini?! Maukah kamu aku ajari sesuatu yang lebih banyak dari ini? Shafiyyah menjawab: Iya, ajarkanlah kepadaku. Lalu Rasulullah bersabda: “Bacalah: “Subhanallah ‘Adada Ma Khalaqa Min Sya’i” [HR. at-Tirmidzi]

Dalam hadits ini Rasulullah tidak melarang, serta tidak mengingkari perbuatan Shafiyyah tersebut. Rasulullah hanya menunjukkan kepada Shafiyyah terhadap yang lebih mudah dan lebih afdhal. Adapaun Tasbih zaman sekarang itu di qiyaskan kepada biji-biji tersebut. Syekh Mulla ‘Ali al-Qari menjelaskan :
وَهذَا أَصْلٌ صَحِيْحٌ لِتَجْوِيْزِ السُّبْحَةِ بِتَقْرِيْرِهِ صَلّى اللهُ عَليْهِ وَسَلّمَ فَإِنَّهُ فِيْ مَعْنَاهَا، إِذْ لاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمَنْظُوْمَةِ وَالْمَنْثُوْرَةِ فِيْمَا يُعَدُّ بِهِ.
“Ini adalah dasar yang shahih untuk membolehkan penggunaan tasbih, karena tasbih ini semakna dengan biji-bijian dan kerikil tersebut. Karena tidak ada bedanya antara yang tersusun rapi (diuntai dengan tali) atau yang terpencar (tidak teruntai) bahwa setiap itu semua adalah alat untuk menghitung dzikir”[Syarh al-Misykat].

Jadi menggunakan tasbih itu hukumnya boleh-boleh saja bahkan jika diperlukan menjadi lebih afdhal. Ibn Hajar al-Haitami berkata :
إِنْ أَمِنَ الْمُسَبِّحُ الْغَلَطَ كَانَ عَقْدُهُ بِالأَنَامِلِ أَفْضَلَ، وَإِلاَّ فَالسُّبْحَةُ أَفْضَلُ.
“Jika orang yang berdzikir tidak khawatir salah hitung maka menghitung dzikir dengan jari-jari tangan hukumnya lebih afdlal. Namun jika ia khawatir salah hitung maka menghitung dengan tasbih lebih afdlal” [al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah]. Wallahu A’lam. Wallahu A’lam Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita agar senantiasa memperbanyak dzikir, mengingat keagungan-Nya dalam setiap kesempatan.

Di balik angka 26

Assalamualaikum... Satu fakta angka angka  yg menarik untuk kita fikirkan:

          Adakah kita sadari...???

          Aceh
          Tsunami
          26-12-2004,
         
          Bohemia gempa
          26-11-1902
         
          Jogja
          Gempa
          26-05-2006

          Tasik, Jawa Barat
          Gempa
          26-06-2010

          Gunung berapi
          Meletus
          26-10-2010

          Jambatan Tenggarong
          Samarinda, Indonesia
          Runtuh
          26-09-2013

          Tahun lalu pada tgl 26 Okt.
          Taufan Haiynan diutus Allah SWT untuk menunjukkan kekuasaan Nya kepada seluruh rakyat Filipina yg telah merobohkan "Rumah Nya" di Manila untuk digntikan dgn shopping mall!!         

          Mengapa semua ini
          Terjadi  pada tgl 26

          Apakah ini suatu kebetulan??

          Bukalah dan bacalah
          Al-Quran Juz ke: 26

          Allah SWT telah berfirman

          Bunyinya:

          "sedikit waktu lagi Aku akan menggoncang kan langit dan bumi, laut dan darat".

          Biar mereka semua tahu bahawa Mu'jizat Allah itu ada !!!         

          Jika sudi..

          Sampaikanlah kepada hamba Allah yg lain.. wallahua'lam  ..
Ternyata Cuma 1.5 jam⌚ saja Umur Kita hidup di DUNIA 🌎 ini.

🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran yang hakiki
🔎 1 hari akhirat = 1000 tahun dunia
🔎 24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
🔎 3 jam akhirat = 125 tahun dunia
🔎 1.5 jam akhirat = 62.5 tahun dunia.

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1.5 jam saja.

Pantaslah  kita selalu diingatkan tentang masalah waktu. ⌛⏰

Allah berfirman : "Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa saja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia)"

Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalann hidup kita ini.

Kuatkan. Berfikir utk akhirat
Karena dunia ni
Tempat kita akan tinggalkan

Fokus akhirat
Itulah tempat kita akan hidup seterusnya

Ingatlah ini :

untuk diri saya sendiri.
Mayat orang Islam yang tidak sembahyang pada 1000
tahun dulu masih disiksa hingga kini.

Allahuakbar! 1 waktu kita tinggalkan sholat sama dengan  8000 tahun siksaan neraka. Jika kita sehari 5 waktu x sholat?

5 x 8000 = 40 000
tahun.

Subhanallah.. 😫😭

Ringan-ringankanlah tangan untuk membagi berita  ini. Akan mendapat  pahala mengingatkan saudara Islam ...

Kirim _*La illaha illa Allah*_,
_*Muhammadu Rasulullah*_sebarkan
kepada 3 group saja. 
Lihat apa kah  anda
mempunyai waktu untuk
*ALLAH.* atau tidak.

Penyakit pikun

*PENYAKIT PIKUN*

Menurut beberapa hadits shahih bahwa setiap penyakit itu ada obatnya, kecuali penyakit pikun atau mati, seperti keterangan dalam hadits riwayat Ahmad, Bukhari:

وفي حديث أسامة بن شريك

*تداووا يا عباد الله فإن الله لم يضع داء إلا وضع له شفاء إلا داء واحدا الهرم*

أخرجه أحمد والبخاري في الأدب المفرد والأربعة وصححه الترمذي وبن خزيمة والحاكم وفي لفظ إلا السام بمهملة مخففة يعني الموت

Arti pokoknya "Wahai hamba Allah, berobatlah karena Allah tidak meketakkan penyakit kecuali meletakkan obatnya juga kecuali satu penyakit pikun (tua)" dalam riwayat lain kecuali mati.

Dari situ kita bisa renungkan bahwa penyakit pikun karena sudah tua tidak bisa diobati. Dalam kitab Faid al-Qadir, penyakit pikun/tua serupa dengan kematian karena memang berkurangnya kesehatan yang secara tidak langsung memang sudah dekat dengan kematian karena faktor umur.

(إن الله تعالى لم ينزل داء إلا أنزل له شفاء إلا الهرم) أي الكبر فإنه لا دواء له البتة قال ابن حجر رحمه الله: استثنى في الحديث الآتي الموت وهنا الهرم فكأنه جعله شبيها بالموت والجامع بينهما نقص الصحة أو القربة إلى الموت وإفضائه إليه ويحتمل أنه استثناء منقطع والتقدير لكن الهرم لا دواء له - فيض القدير

Kesimpulannya menurut hadits tersebut penyakit pikun karena faktor udah lanjut usia itu tidak bisa diobati. Penyakit pikun ini sangat kita takuti karena kalau sudah pikun sangat menyiksa kita, keluarga, anak cucu kita. Pikun menyebabkan penderita hilang ingatan (memory) dan lepas kendali ada yang bertanya terus-terusan dengan pertanyaan yang sama, ada yang pergi begitu saja dari rumah lalu lupa jalan pulang ke rumah sendiri bahkan ada yang lupa nama dan wajah anak sendiri.

Rasulullah saw berdo'a berlindung dari penyakit pikun sebagai berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:

*اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ، وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَات*

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.” (HR. Muslim)

Banyak kakek nenek kita yang dikaruniai sampai umur 100 tahun lebih tidak pikun. Ternyata mereka ahli shadakah, ahli silaturrahmi, ahli al-Qur'an, ahli qiyam al-lail, selalu gemar menuntut ilmu dan gak neko-neko. Dan pastinya aktifitas-aktifitas yang mendukung untuk memperkuat daya ingat tentunya dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir penyakit pikun.

Bagaimana dengan kita kelak?. Semoga Allah swt menjauhkan kita dari penyakit pikun.

Wallahu A'lam

Akibat jika memusuhi wali

AKIBAT MEMUSUHI WALI

Dari Abu hurairah, Rasul SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ
Sesungguhnya Allah berfirman: "Barang siapa berani memusuhi wali (kekasih) Ku maka sungguh Aku mendeklarasikan perang dengannya" [HR Bukhari]

Teringat sewaktu mengikuti sebuah seminar di bangku kuliah dulu terdapat seorang pemateri yang menggebu-gebu mengkritik para pemikir islam tak terkecuali imam ghazali dan karyanya ihya ulumuddin. Tak ada karya beliau yang luput dari kritikannya.  Ternyata dunia sarat kritik tidak hanya berlaku di kampus, hal yang sama berlaku di dunia pertelivisian. Di sebuah tayangan program keislaman di televisi swasta, seorang host memberikan komentar-komentar miring tentang Imam Al-Ghazali. Ia mengatakan bahwa Imam Al-Ghazali kurang mendalami Al-Quran dan Hadits.
Mengkritik pendapat seseorang adalah hal yang wajar, karena tiada manusia yang sempurna dan maksum selain Nabi SW. Namun jika yang dikritik adalah orang yang mulia di sisi Allah maka timbul pertanyaan apakah yang mengkritik lebih mulia dari yang dikritik? Selanjutnya apakah tidak dikhawatirkan pelaku termasuk dalam kategori memusuhi Wali Allah seperti keterangan hadits shahih di atas sebab yang dimaksud dengan Wali Allah adalah
العالم بالله المواظب على طاعته المخلص في عبادته
orang yang berilmu dengan ilmu Allah yang secara konsisten berada dalam ketaatan dan ikhlas dalam ibadahnya [Fathul Bari]

Mengkritisi karya Imam al-Ghazali (1058 M / 450 H - 1111 M / 505 H) menurut catatan sejarah ternyata pernah dilakukan oleh seorang ulama fiqih terkemuka dari Maroko yaitu Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Muhammad bin Abdullah bin Harzihim yang terkenal dengan sebutan Ibnu Hirzihim (W.1163 M) . Syekh Abdul Qadir al-Idrus Ba Alawi menceritakan bahwa Ibnu Hirzihim merasa risih dan tidak menyetujui dari apa yang dipaparkan Imam Ghazali, terlebih kitab itu mengandung banyak hadits maudhu' sebagaimana pernyataan banyak orang. Walhasil, Ia mengundang sejumlah ulama' untuk bersama-sama membedah kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam al-Ghazali (Almarhum). Hasil dari pembedahan itu adalah bahwa kitab itu penuh penyesatan dan khurafat. Iapun memerintah untuk mengumpulkan semua kitab Ihya' Ulumiddin dan membakarnya secara masal di hari Jum'at !!

Sebelum pembakaran masal Ihya' Ulumiddin dilangsungkan, Ibnu Hirzihim bermimpi memasuki sebuah masjid dan menjumpai Imam Ghazali duduk menghadap Rasulullah, Saidina Abu Bakr dan Saidina Umar. Imam Ghazali saat itu mengadu kepada Rasulullah dan kedua sahabat mulia itu tentang tuduhan yang dialamatkan kepada karyanya. Imam Ghazali berkata :
هذا خصمي يا رسول الله فإن كان الأمر كما زعم تبت إلى الله، وإن كان شيئاً حصل لي من بركتك واتباع سنتك فخذ لي حقي من خصمي
Orang ini adalah musuhku wahai Rasul. jika kitabku ini memang seperti tuduhannya maka aku akan bertaubat kepada Allah, namun jika kitabku ini meruapakan hasil dari keberkahan-Mu dan mengikuti sunnah-Mu maka mohon tunaikanlah hakku atas musuhku ini.
Rasulullah kemudian membaca kitab Ihya' Ulumiddin dari baris dan halaman pertama sampai titik terakhir. Selepas membacanya, beliau bersabda:
والله إن هذا لشيء حسن
"Demi Allah, buku ini sungguh mulia".
Selanjutnya Saidina Abu Bakar pun membacanya, setelah menelaahnya, beliau menanggapi:
والذي بعثك بالحق إنه لشيء حسن
"Demi Allah yang mengutus mu dengan kebenaran, buku ini sungguh mulia".
Lalu Sayyidina Umar pun turut membacanya dan memberikan kesaksian yang sama.
Rasulullah SAW kemudian memanggil Imam Ibnu Hirzihim dan memerintahkannya untuk melepas baju agar dicambuk. Setelah cambukan yang kelima kalinya, Sayyidina Abu Bakar mencoba memohonkan ampun untuknya:
يا رسول الله لعله ظن فيه خلاف سنتك فأخطأ في ظنه
"Wahai Rasulullah, mungkin saja dia ingin membela sunnahmu tapi prediksinya salah".
Imam Ghazali menyetujui usulan Sayyidina Abu Bakr dan Rasul pun memenuhi permohonan itu. Saat itu terjagalah Ibnu Hirzihim dari tidurnya. Namun anehnya luka-luka akibat cambukan nampak jelas di punggungnya. Menyesali perbuatannya, Ibnu hirzihim lalu bersaksi bahwa karya Imam Ghazali adalah kitab yang suci nan mulia. Jika ada yang belum mempercayai mimpinya, maka luka di punggungnya sebagai bukti paling nyata. Luka itupun terus terasa dalam waktu yang lama!. Ia sadar bahwa memusuhi auliya' adalah kesalahan yang amat besar. Iapun kembali mengkaji dan mengamalkan kitab Ihya' Ulumiddin serta mengajarkannya kepada khalayak umat. Tidak lama setelah itu, Dalam mimpinya Rasulullah datang menjumpainya dan mengusap luka punggung dan hatinya, dan akhirnya iapun bebas dari segala belenggu yang telah lama menghantui perasaannya. Diakhir hayat beliau, Syeikh Abu Hasan As-sadzili berkata:
ولقد مات الشيخ أبو الحسن ابن حرزهم يوم مات وأثر السياط ظاهر على ظهره
Sungguh ketika Syeikh Ibnu Hirzihim wafat, bekas luka tersebut masih tampak jelas dipunggungnya. [Sumber : Ta'rif al-Ahya' bi Fadha'il al-Ihya] _Wallahu A’lam_ Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita agar senantiasa hormat kepada para wali Allah dan tidak menghina apalagi memusuhinya.

Terima kasih buat istri

TERIMAKASIH ISTRIKU

Diriwayatkan dari Ummu Salamah RA, Nabi SAW bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ الْجَنَّةَ
"Wanita mana saja yang meninggal dunia, sedang suaminya ridlo kepadanya, maka ia masuk surga".  [HR Ibnu Majah].

Wahai para suami renungkanlah kata-kata bijak ini “Istri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah, Tidaklah setaqwa Aisyah, Pun tidak setabah Fatimah. Justru Istrimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi wanita solehah”. Benarlah demikian adanya, sebagaimana kita para suami tidaklah sempurna maka mereka juga tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Maka dari itu janganlah menuntut kesempurnaan dari istrimu. Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi berkata :
من ابتغى صديقا بلا عيب عاش وحيدا # من ابتغى زوجةً بلا نقص عاش أعزبا
“Siapa yang ingin mencari teman yang sempurna (tanpa aib), maka ia akan hidup sendirian (karena tiada teman yang sempurna). Siapa yang ingin mencari istri yang sempurna (tanpa kekurangan), maka hidupnya akan jomblo.”

Ketika sarapan atau makan malam siapa yang menyiapkan semuanya? Siapa yang merawat anak-anakmu? Siapa yang menjaga rumahmu? Bukankah semua itu dilakukan istrimu? Padahal pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak merupakan kewajiban kita para suami menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki.

Riwayat-riwayat yang kita dengar tentang semisal Asma’ binti Abu Bakar yang tiap hari mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya,

Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung

itu semua menunjukkan betapa besar kerelaan dan keluhuran budinya. Pun demikian istrimu, ia melakukan semua itu demi menggapai ridlomu. Bukankah Rasulullah saw bersabda,
إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan TAAT KEPADA SUAMINYA, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” [HR Ahmad]

Dengan demikian seorang istri bermaksud membangun surga dunia di rumah tanggamu dan surga di akhirat nanti dengan taat kepadamu. Nah sekarang, Lihatlah penghargaanmu kepadanya! Apa yang telah kau perbuat dengan cita-cita luhurnya dan keikhlasannya?

Alkisah terdapat sepasang suami istri sedang bercengkrama dan ia berkata : “mari kita tulis kekurangan kita masing-masing di kertas kosong, agar kita bisa saling intropeksi diri”. Keesokan harinya merekapun saling bertukar kertas. Mulailah dari suami yang membaca kertas tulisan istri. Setiap kata ketika membaca tulisan mengenai kekurangannya, air matanya tidak bisa dibendung, mengalir di setiap sudut matanya. Karena ternyata begitu banyak kekurangan pada dirinya. Suami berkata : “maafkan aku yang tidak bisa sempurna mendampingimu . Maafkan aku,” air matanya semakin deras mengalir. Tibalah giliran istri membuka dan membaca kertas dari suami. Namun sang istri kaget kertas itu masih bersih polos karena suaminya tidak menulis apapun dikertas itu. Suami lantas berkata : “Istriku tercinta, tahukah engkau. Aku mencintaimu apa adanya sehingga aku melihat kekuranganmu adalah kelebihanmu dan aku tahu bahwa setiap manusia pastilah tercipta dengan berbagai kekurangannya, untuk itu aku tercipta sebagai suamimu untuk menjadi pelengkap kekuranganmu. Aku mencintaimu karena Allah telah memilihmu sebagai pendampingku, wahai istriku”.  Sang istri pun tak sanggup menahan tangis mendengar ucapan dari sang suami yang begitu sangat mencintainya.

Pertengkaran suami istri biasanya karena ego, saling menuntut cinta, saling meminta diperhatikan, saling minta disayang, gengsi meminta maaf duluan jika melakukan kesalahan, tidak mau berlomba memberi yang terbaik, yang berakibat hilangnya rasa syukur dan rasa menerima apa adanya. Maka cintailah pasanganmu yang telah kau pilih “apa adanya” dan bukan “ada apanya”. Para suami, bantulah istrimu untuk menggapai cita-cita mulia untuk membangun surga dunia dan akhiratnya dengan ridlomu. Berikan ridlo untuknya dan katakan “terimakasih istriku atas semuanya” _Wallahu A’lam._ Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bisa menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna begitu pula kita dan istri kita.

Perbedaan adalah rahmad

.
Bismillah . .
.
PERBEDA’AN ADALAH RAHMAT ??
.
Mungkin kita pernah mendengar orang berkata : ”Perbeda’an adalah rahmat”
.
Perbeda’an apa yang dimaksud adalah rahmat ?
.
Kita meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi terakhir, kelompok lain mengakui ada Nabi lain setelah Nabi Muhammad.
.
Kita memuliakan para Sahabat, kelompok lain mengkafirkan para Sahabat.
.
Kita mengatakan semua bid’ah sesat, kelompok lain mengatakan tidak semua bid’ah sesat.
.
Kalau memang perbeda’an adalah rahmat mengapa Khalifah Abu Bakar memerangi pasukan nabi palsu Musailamah al Khazab, juga pasukan nabi palsu Thulaihah al Assadi dan pasukan nabi palsu Kais bin Abdi Yaguts ? Semua nabi palsu tersebut ditumpas oleh Khalifah Abu Bakar, walaupun harus dengan peperangan yang sengit selama satu tahun.
.
Kalau perbeda’an adalah rahmat mengapa Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Al-Bukhari mengkafirkan syi’ah ?
.
Kalau perbeda’an adalah rahmat, mengapa Ibnu Umar berkata :
.
كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة
.
“Seluruh bid’ah itu sesat sekalipun manusia memandangnya baik”. (Al Lalika’i 11/50).
.
• Perbeda’an pendapat dalam Islam
.
Dalam khasanah Islam, perbeda’an pendapat bukanlah hal baru. Tidak terhitung jumlah kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.
.
Perlu diketahui bahwa perbeda’an pendapat dalam Islam ada yang dibolehkan dan ada yang terlarang.
.
Contoh perbeda’an yang di bolehkan misalnya : Cara turun ketika hendak sujud dalam sholat. Apakah tangan atau lutut terlebih dahulu. Kedua-duanya dibenarkan karena masing-masing berdasarkan dalil yang shohih. Maka ini termasuk perbeda’an yang dibolehkan.
.
Contoh lainnya adalah : Perbeda’an baca’an do’a iftitah, baca’an tasyahud, jumlah takbir shalat jenazah dan takbir sholat ‘id, jumlah shalat teraweh dan banyak lagi. Sesama Muslim tidak dibenarkan bermusuhan karena perbeda’an pada masalah-masalah seperti yang disebutkan di atas. Karena masing-masing dari pendapat diatas memiliki dalil yang sahih.
.
Sikap kita kepada sesama muslim yang lainnya, yang berbeda pendapat maka harus toleran tidak perlu mempermasalahkannya. Kalaupun mau mendiskusikannya, maka harus memiliki pengetahuan yang cukup, mutaba’ah dan adab yang baik. Sehingga tidak mencederai ukhuwah Islamiyah.
.
Akan tetapi sikap toleran itu tidak berlaku kepada ajaran, faham atau amalan-amalan baru (bid’ah). Kita tidak boleh mendiamkan bid’ah merajalela ditengah-tengah umat. Karena akan menjadikan umat tenggelam dalam kesesatan. Perbeda’an inilah yang terlarang.
.
Tidak ada toleransi kepada amalan-amalan bid’ah, karena bid’ah menjadikan agama ini tidak murni dan mengakibatkan perpecahan berujung kebencian dan permusuhan diantara sesama umat Islam.
.
Imam Asy-Syatibi rahimahullaahu ta’ala berkata : “Semua bukti dan dalil ini menunjukan bahwa munculnya perpecahan dan permusuhan adalah ketika munculnya kebid’ahan.” (Al- I’tisham, I/157).
.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaahu ta’ala berkata : “Bid’ah itu identik dengan perpecahan, sebagaimana sunnah identik dengan persatuan.” (al-Istiqamah, I/42).
.
Karena bid’ah berdampak buruk kepada agama dan umat, maka memeranginya sangat besar pahala dan keutama’annya.
.
Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai ? Beliau menjawab : “Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri, tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/ lebih utama”. Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah.
.
Maka atas dasar itulah semenjak dahulu hingga hari ini, para Ulama mengahalau para pengusung kesesatan dan menyingkap penyimpangan-penyimpangannya.
.
برك الله فيكم
.
.
https://agussantosa39.wordpress.com/category/04-bidah/02-memahami-bidah/
.
===============
.
.
PERINGATAN ! ! ! !
.
MOHON MAAF, TIDAK ADA WAKTU MENANGGAPI SEMUA KOMENTAR YANG KONTRA BAIK ITU KOMENTAR OOT(out of topic) ATAUPUN PERTANYAAN YANG KONYOL(bodoh)
.
Dan Bagi yang KONTRA status apabila  ingin membuat bantahan, sebelum KOMENTAR jawab terlebih dahulu pertanya'an mudah berikut ini :
.
Sebutkan perbeda'an MASLAHAH MURSALAH dengan BID'AH  ??
.
Saya sebutkan salah satu perbeda'annya sebagai berikut :
.
المصالحة المرسلة، لا أن تضيف إلى قيمة من ثواب العبادة القيام به، ولكن في العطلات كوسيلة لتحقيق الأهداف المشار إليها
.
MASLAHAH MURSALAH, dilakukan bukan untuk menambah nilai pahala dari ibadah yang dilakukan, tapi di tujukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
.
أما بالنسبة للبدعة ويهدف للحصول على مكافأة في العبادة
.
Adapun BID’AH ditujukan untuk mendapatkan nilai pahala dan keutama'an dalam ibadah.
.
MASIH ada perbeda'an yang lainnya, dan silahkan anda sebutkan semuanya.
.
APABILA TIDAK BISA MENJAWABNYA,
.
MA'AF TIDAK DI IZINKAN BERKOMENTAR DAN KOMENTARNYA AKAN SELALU  HILANG

Tangisan saat buka puasa

Tangisan Al-imam Malik bin Anas Saat Berbuka Puasa

Dalam sebuah riwayat sayidina al-imam malik bin anas (atau nama lengkapnya : Mālik ibn Anas bin Malik bin 'Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani, lahir di Madinah pada tahun 714M / 93H, dan meninggal pada tahun 800M / 179H, Beliau adalah pakar ilmu fiqh dan hadits serta pendiri Madzhab Maliki), dalam sebuah riwayat di bulan Romdhon pada saat berbuka puasa beliau menangis hingga bercucuran air matanya membasahi janggutnya, lalu salah satu muridnya bertanya :

Murid : ''Wahai guruku yg mulia, kenapakah engkau menangis sedemikian sedih serta menyayat hati kami'' ??, Apakah ada di antara kami yg membuat hatimu sedih, atau hidangan ini kurang berkenan ??!

Imam Malik : ''tidak..tidak wahai murid2ku, Sungguh kalian adalah murid2 terbaikku dan sangat hidmah padaku, bahkan hidangan ini teramat nikmat buatku''

Murid : ''Lalu kenapakah wahai guru kami yg tercinta !
Imam Malik : ''Sungguh aku pernah berbuka dengan guruku (Sayidina Al-Imam Ja'far As-shodiq) cucu baginda Rosulillah dalam makanan yg nikmat seperti saat ini, dan beliau (Sayidina Ja'far As-shodiq) berkata sambil terisak :
''Wahai ibnu anas (imam malik) tahukah engkau, Rosulillah terkadang berbuka dgn 3 buah kurma dan air tapi beliau merasa sangat nikmat penuh syukur, bahkan seringkali Rosulillah hanya berbuka sebutir kurma di bagi dgn aisyah tapi sungguh beliau merasa sangatlah nikmat, beliau (Rosulillah) sedikit sahur dan buka tapi sangatlah banyak ibadah dan syukur, dan beliau selalu mendo'akan kita umatnya yg selalu lalai kepada baginda''!!!

Sedang hari ini kita di penuhi makanan nikmat dalam berbuka tapi kita sangatlah jauh dari ibadah dan rasa syukur !!''
lanjut imam malik dan tahukah kalian setelah berkata itu maka guruku manusia yg mulia itu (sayidina ja'far as-shodiq) pingsan karena tiada mampu terkenang akan Rosulillah..
Setelah Imam Malik menceritakan itu sambil terisak pada murid2nya, maka tiba2 ruangan tersebut menjadi haru dgn isak pilu kerinduan pada baginda Rosulillah''

Allah...Allah...ya Rosulillah...
mari tataplah santapan sahur dan berbuka kita..lalu tela'ah amal ibadah kita..
bersyukurkah kita atau kufurkah kita ????

Setan di bulan Ramadhan

SETAN DIBELENGGU?

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Bahwa Rasul SAW bersabda :
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” [HR. Bukhari –Muslim]

Ketika Ramadhan tiba sering terlontar pertanyaan, Benarkah setan dibelenggu pada bulan ramadhan? Jawabnya benar seperti keterangan dalam hadits shahih di atas bahkan menegaskan pemaknaan hadits tersebut, dalam lafazh lain disebutkan,
وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” [HR. Bukhari – Muslim]

Lantas, kalo demikian kenapa masih terdapat kemaksiatan? Untuk menjawab pertanyaan kedua ini perlu kiranya kita ketahui bahwa ulama berbeda pendapat dalam memaknai pernyataan dibelenggunya setan pada bulan ramadhan.

Pertama ada ulama yang memaknainya secara kiasan karena sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan sehingga setan seperti terbelenggu. al-Baji berkata :
ويحتمل أن هذا الشهر لبركته وثواب الأعمال فيه وغفران الذنوب تكون الشياطين فيه كالمصفدة، لأن سعيها لا يؤثر، وإغواءها لا يضر…
Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia. [al-Muntaqa Syarah al-Muwattha’]

Hal ini serupa dengan pernyataan Nabi bahwa “Tatsa’ub (menguap) itu dari setan” [HR Bukhari] yang diartikan dengan makna kiasan yaitu menguap itu merupakan perkara yang disenangi setan bukan menguap itu berasal dari perbuatan setan sehingga tidak aneh jika menguap masih kita temui selama bulan Ramadhan, bahkan lebih banyak kita temui bahkan alami sendiri.

Kedua, Pendapat yang memaknainya secara hakiki. Inilah pendapat yang unggul menurut Imam Al-Qurthubi. Beliau lalu berkata,
فإن قيل كيف نرى الشرور والمعاصي واقعة في رمضان كثيرا فلو صفدت الشياطين لم يقع ذلك
"Jika dikatakan, bagaimana kita masih dapat menyaksikan banyaknya keburukan dan kemaksiatan di bulan Ramadhan. Seandainya setan diikat, seharusnya hal itu tidak terjadi?"

Maka jawabnya adalah, (1) "Bahwa kemampuan setan menggoda menjadi berkurang khusus untuk menggoda orang-orang yang berpuasa dengan memperhatikan syarat-syarat dan adab-adab puasa. Atau (2) pemahaman lain bahwa yang diikat hanyalah setan pembangkang (al-Maraddah), bukan semuanya sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat. (3) Atau yang dimaksud adalah berkurangnya keburukan di bulan tersebut, dan ini adalah perkara yang dapat dirasakan, karena terjadinya keburukan (secara umum) menjadi berkurang di bulan ini. Disamping itu, (4) kalaupun semua setan diikat, hal itu bukan berarti tidak akan terjadi keburukan dan kemaksiatan, karena semua itu dapat terjadi karena sebab selain setan, seperti jiwa yang buruk, serta kebiasaan jelek atau karena setan manusia." [Kitab Fathul Bari] Keterangan terakhir ini menegaskan bahwa sumber maksiat tidak hanya setan tapi juga ada hawa nafsu. Jadi Hadits ‘setan dibelenggu’ di atas tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat karena bisa jadi maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat.

Namun terlepas dari uraian di atas, kita harus tahu bahwa setan dibelenggu pada bulan ramadhan adalah termasuk perkara ghaib dan sikap orang muslim yang baik adalah menerima dan membenarkannya. Dan tidak kita memperbincangkan kenyataannya seperti ini dan itu karena sikap tersebut  lebih menyelamatkan agama seseorang dan lebih bagus akibatnya. Oleh karena itu ketika Abdullah putera Imam Ahmad bertanya kepada bapaknya, Imam Ahmad:
قد نرى المجنون يُصرَع في شهر رمضان ؟
“Sesungguh orang kerasukan (jin) pada bulan Ramadan (maksudnya mengapa sampai terjadi padahal katanya setan dibelenggu)”.  Imam Ahmad menjawabnya:
هكذا جاء الحديث ولا تكلَّم في ذلك
Begitulah keterangan hadits maka janganlah kau membicarakannya (terlalu jauh). [Kitab: Thabaqatul Hanabilah]

Dari keterangan imam ahmad inilah maka kita tetap membaca taawwudz meskipun di bulan ramadhan, bulan dimana para setan dibelenggu karena tidak ada perintah Nabi untuk meninggalkan bacaan ta’awwudz selama bulan ramadhan dan karena hal ini termasuk masalah ghaib yang tidak terjangkau oleh akal manusia. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati dan fikiran kita agar membenci perbuatan setan dan menjauh darinya baik di bulan ramadhan ini maupun selepasnya.

Keistimewaan Sholat Tarawih

INILAH KEISTIMEWAAN SHALAT TARAWIH SAAT RAMADHAN

Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beliau bersabda :

Pada 10 Hari Pertama Bulan Ramadhan :

Malam pertama: Pelaksanaan shalat tarawih pada hari pertama Ramadhan sama seperti orang yang keluar dari dosanya, layaknya anak yang baru dilahirkan ibunya.

Malam ke 2 : umat mukmin yang menyelenggarakan shalat tarawih pada malam kedua maka akan diampuni dosa-dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Malam ke 3 : Pada malam keempat masih berkaitan dengan pengampunan. Malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat”. Jadi Allah akan mengampuni dosa-dosa yang sudah lalu jika kita dengan ibadah pada malam tersebut.

Malam Ke 4 : Pada malam ini melaksanaakan ibadah shalat tarawih pahalanya seperti sedang membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran.

Malam ke 5 : pahala melaksanakan shalat ini pada malam kelima adalah seperti pahala orang shalat di Masjidil Haram masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.

Malam ke 6 : pahala menyelenggarakan shalat tarawih pada malam keenam ini adalah Allah SWT akan memberikan pahala seperti orang yang sedang bertawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.

Malam ke 7 : seolah- olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.

Malam ke 8 : Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim a.s.

Malam ke 9 : Pada malam ke sembilan orang yang menunaikan ibadah shalat tarawih seolah-olah ia beribadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadahnya Nabi saw.

Malam ke 10 : Allah Ta’ala mengarungi dia kebaikan dunia dan akhirat.

Pada 10 Hari Kedua Bulan Ramadhan :

Malam ke 11 : ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.

Malam ke 12 : Keistimewaan shalat pada malam ini adalah wajahnya bagaikan bulan di malam purnama saat hari kiamat.

Malam ke 13 : Keistimewaan bagi siapa yang shalat pada malam ini adalah ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.

Malam ke 14 : para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.

Malam ke15 : Siapa yang shalat tarawih pada malam ini maka Ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.

Malam ke 16 : Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.

Malam ke 17 : ia diberi pahala seperti pahala para nabi.

Malam ke 18 : seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”

Malam ke 19 : Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.

Malam ke 20 : Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).

Pada 10 Hari Ketiga Bulan Ramadhan :

Malam ke 21 : Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.

Malam ke 22 : ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.

Malam ke 23 : Allah membangunkan untuknya sebuah kota di dalam surga.

Malam ke 24 : ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.

Malam ke 25 : Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.

Malam ke 26 : Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun

Malam ke 27 : ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.

Malam ke 28 : Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

Malam ke 29 : Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.

Malam ke 30 : Allah berfirman:”Hai hamba-Ku, makanlah buah- buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku” (HR Majalis).

Demikianlah smg bermanfaat

Cari

KRITIK - SARAN

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut